Tangan Kosong Berbuah
limpah
Tak kala impian yang tercipta oleh seseorang, segala cara untuk menggapainya
mana itu keras namun itu lebih pantas dan halal dimatanya. Bapak Nursen namanya
yang menjadi tokoh desa hanya berprofesi sebagai pengepul krupuk untuk dijual
kepada orang .Bapak kepala tiga ini selalu menggerakkan tubuhnya kala tiada
kesibukan . Pagi,siang,sore, hingga senja pak Nursen akan selalu berusaha
memberikan hasil dari tangan untuk keluarganya.Ketika suatu hari lamunan pak
Nuren mengarah pada anaknya yang berkata untuk ingin melanjutkan sekolah ke
salah satu universitas hukum. Mendengar itu, pak Nursen hanya mampu melihat
akan keadaan . Mengingat hanya berprofesi sedemikian rupa,pak Nursen merasa
bingung ketika menjawap keinginan anaknya itu. Namun,bukan Pak Nursen namanya
jika seandainya memupuskan harapan mulia dari putri sulungnya tersebut. Kian
hari kian waktu Miea putri sulung Pak Nursen yang kini duduk di bangku SMA
menjadi buah pemikiran hari-hari Pak Nursen, Pak Nursen yang tidak ingin
membuat putrinya kecewa,kini iya mulai berfikir untuk mengembangkan usahanya.
Berawal dari nol atas hasil usahanya,Pak Nursen mencoba mengembangkan usahanya
yang awal mula hanya pengepul,kini berkeinginan untuk membuat krupuk dari hasil
produksinya sendiri. Ketika senja tiba,Pak Nursen berfikir untuk menambah dana
untuk mengembangkan usahanya itu. Bersama istrinya Pak Nursen bertanya,kemudian
Bu Awi yang selama ini selalu mendukung pekerjaan suaminya itu memperbolehkan
atas apa yang diinginkan suaminya.Setelah mendapat restu dari istrinya,Pak
Nursen mewujudkannya,bersama salah satu Bank swasta yang sering ia jumpai.
Bermodal dengan dana yang tercukupi dari Bank "D" Pak Nursen memulai
usaha yang akan dikembangkan itu bersama istrinya. Kini Pak Nursen tidak hanya
memproduksi krupuk dan di jual dirumah,namun lambat laun Pak Nursen mencoba
menjualnya ke luar kota. Seperti di Solo,Tegal
,Banjarnegara,Magelang,Bandung. Keberhasilan tersebut tidak lain juga atas
semangat keluarga dan dukungan dari istrinya yang selalu ada di belakang jerih
payah Pak Nursen. Waktu yang selalu berjalan usaha Pak Nursen yang digelutinya
menjuang jadi. Pak Nursen bersama istrinya sangat mensyukuri kelancaran dalam
perjuangannya. Kini Pak Nursen tidak hanya berhenti sampai di sini. Ia akan
mengebarkan sayapnya kepada anak dan tetangga di sekelilingnya untuk membagi
keberhasilannya selama ini .Tetapi belum lama oven di gerakkan ,dibiarkan saja dan memilih untuk menunggu musim kemarau. Pilihan yang kurang spesifik pasangan ini dalam usahanya, dan sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya sedikit berbeda. Mesin-mesin yang tiap hari digerakkan oleh pekerjanya,kini hanya terdiam.
Mengingat pinjaman yang belum bisa ditutup oleh Pak Nursen,membuatnya khwatir untuk bunga yang dikenakannya. Miea yang kini sudah selesai ujian dan husni anak kedua yang akan pergi ke Jakarta mengikuti rekreasi yang diadakan sekolahnya,mengharusnkan Pak Nursen untuk melanjutkan tugasnya sebagai pemenuh kebutuhan. Dengan dorongan sang istri Pak Nursen kembali bangkit untuk menggerakkan tubuhnya.
Berjalan dengan pelan sambil menunggu musim kembali bersahabat Pak Nursen mencoba menjadi profesi sopir sebagai kerja sampingannya. Waktu trus berjalan,mengitari nuansa layu, bu Awi sering merasakan kesepian atas Pak Nursen yang berprofesi sebagai sopir yang sudah 3 hari belum pulang. Namun kepercayaan selalu ada untuk suaminya. Dari layang suara bu Awi saling bersapa dengan Pak Nursen. Pernah beberapa hari Pak Nursen tiada kabar,padahal Miea sering menanyakan kemana ia harus melanjutkan sekolah. Hal tersebut mencengangkan hati Bu Awi,rasa panik yang membara dihati. Fikiran yang menggebu-gebu,kekhawatiran yang tiada tara. Bu Awi hanya bisa pasrah dengan bagaimana keaadaan suaminya. Lantunan do'a yang di sampaikan untuk suaminya tiada henti.
Suatu hari dimalam yang begitu cerah dihiasi bintang berkedip yang menemani kekosongan dan kesedihan Bu Awi tersampaikan salam dari suara yang sangat ditunggu tunggu oleh Bu Awi .Ternnyata Pak Nursen menghilang tanpa kabar datang dan memeluk erat Bu Awi. Mengalirlah air mata Bu Awi dan Pak Nursen. Bu Awi yang tak tahan dengan kejadian yang menimpanya hingga tak sepatah kata keluar dari mulutnya. Rasa haru yang mendalam dan kerinduannya Bu Awi terhadap suaminya . Untuk menceritakan semua yang terjadi, Pak Nursen memanggil anak-anaknya yang telah tertidur pulas. Miea,husni,dan Rizky serta Bu Awi tak bisa menahan pilunya ditinggalkan oleh orang yang mereka sangat sayangi .
Di ruang keluarga mereka berkumpul dan Pak Nursen menceritakan semua yang terjadi bahwa mengapa ia menghilang tanpa sebab yaitu karena Hp-nya hilang dan Pak Nursen tidak menghafal satupun nomor keluarganya. Setelah itu , Pak Nursen saat akan kembali pulang kerumah ketika dijalan ia menemukan seorang Nenek-Nenek yang mirip dengan ibunya di bawah pohon dan terlihat sedih. Lalu Pak Nursen menghampirinya dan duduk bersamanya. Setelah banyak sesi pembicaraan panjang Sang Nenek kepada Pak Nursen ,nenek tersebut berkeinginan untuk tinggal bersamanya. Pak Nursen memperbolehkan dan senang hati. Lalu di tengah tengah perjalanan sang nenek menyuruh berhenti dan menyampaikan pada Pak Nursen terimakasih dan memberikan surat wasiat kepadanya. Pak Nursen bingung atas kejadian terseut. Sempat Pak Nursen menolak pemberian dari Nenek itu,namun sang nenek memaksakan dan berkata " Kamu sangat membutuhkan Nak ,dan terimalah" kemudian sang Nenek minta untuk ditinggalkan dan menyuruh Pak Nursen untuk segera pulang. Begitu cerita Pak Nursen kepada istrinya. Bu Awi yang telah mempercayai Pak Nursen hanya termenung dan lemas. Malam kian larut Pak Nursen beranjak ke kamar untuk tidur di kasur yang cukup lama ditinggalkan.
Ayam mulai berkokok dan sinar pagi mulai menyapa. Pak Nursen dan keluarganya telah terbangun. Pak Nursen mulai menengok mesin mesin yang telah beberapa hari terdiam dan kemudian dibersihkan olehnya. Tiba-tiba pihak dari Bank "D" yang beberapa hari tertunggak oleh Pak Nursen kembali meminta pelunasan atas pinjamannya. Pak Nursen yang menyadari untuk membayar kewajibannya secara tepat waktu. Lalu ia terfikirkan atas pesan terakhir dari nenek tersebut bahwa wasiat yang diberikan sangat dibutuhkan olehnya. Akan hal itu Pak Nursen menembus hutang-hutangnya dengan pemberian nenek itu. Mengetahui wasiat yang mempunyai nilai tinggi Pak Nursen mendapatkan sisa uang dari Bank "D" lalu ia memulai untuk mengatifkan usahanya yang sepekan terdiam. Selain itu Pak Nursen mempergunakan pemberian sang Nenek untuk menyekolahkan Miea anaknya yang mendftar di salah satu universitas hukum.
Usaha kembali berjalan lancar,Pak Nursen kembali memeras keringatnya untuk keinginannya menyandang pengusaha yang sukses. Lengkapnya dukungan dan do'a dari sang istri soleha Pak Nusen menemukan kebahagiaan yang utuh dan selalu mensyukuri tiap-tiap langkah perjalanannya yang berliku-liku.